Salah satu hoby saya dari sekian banyak hobi adalah naik gunung bareng temen temen. Naik gunung ini benar benar naik gunung. Pake tas carrier yang segede kulkas, sepatu ato sandal gunung yang nyaman, acara masak memasak dan makan memakan ala kadarnya tapi mewah, pokoknya yang bener bener naik gunung.
Naik gunung yang benar benar di daki dari bawah kaki gunung sampai ke atas puncaknya loh, bukan sejenis naik gunung Bromo yang bisa diantar pakai mobil sampai puncak. Atau ke bumi perkemahan macam Gn Puntang, Ranca Upas (Bandung) gitu. Pokoknya benar benar naik gunung deh.
Perasaan yang saya rasakan waktu naik gunung
*Saat sebelum mendaki
Excited, pasti amat sangat bersemangat. Merasa, membayangkan, berharap, akan seru sekali. Perasaan gembira yang meluap luap (halah!). Pokoknya amat sangat very very senang dan heppy sekali.
Semangat dari mulai contact teman teman yang mo ikut. Konfirmasi ada teman baru yang mo ikut (deg degan mo dapet kenalan baru). Semangat ngumpulin barang barang buat hiking. Belanja bahan makanan yang ala kadarnya enak sehat dan mewah menurut standart naik gunung. Pokoknya semangat sekali lah
*Saat hari H – menuju pos 0
Ga sabar pengen sampai pos 0 di kaki gunung. Ga sabar pengen ketemu sama kenalan baru yang berangkat dari daerah masing masing dan ketemu di pos 0. Masih suka updet status facebook dan koprol, “berangkat naik gunung xxx ni, doakan ya…” (eksis tetep harus, hehe)
Pengalaman naik angkot rame2, dengan perlengkapan gunung lengkap, ditonton banyak orang, pengennya sih kita bilang, “Kalo mo minta foto dan tanda tangan nanti aja ya…”. Ato naik bus damri yang murah meriah pun masih dengan carrier yang cukup dimasukkin 60 L barang barang.
*Saat di pos 0 – menuju kaki gunung
Haaaaayyyy, senang nya kenalan sama teman2 baru. Dari yang mulai kakek kakek, pasangan suami istri, single, duda, janda, tua, muda, pokoknya semua orang yang interest dengan gunung, alam, udara segar, langit bersih, dan kawan kawannya.
Pengalaman naik jeep range rover 4WD, ato naik di bak terbuka truk. Sambil sedikit terguncang guncang, pontang panting, terpental kesana kemari di dalam truk (lebay mode ON) dan pastinya banyak berdoa, karena jalan tanjakan ini memang masih alami patern alam, gunung banget. Dan pastinya harus naik kendaraan 4WD
*Saat sampai pos 0 – menuju pos istirahat makan pertama
Di bawah, masih amat sangat excited sekali. Poto poto lah pastinya, segala pose terbaik dikeluarkan. Update status facebook ma koprol terbaru, biasanya si masih ada sinyal.
Perjalanan awal menuju pos istirahat. Hempphhh, ada yang bilang ini gejala firstly syndrom mountaineering, gejala capek dan perasaan pengen turun ke kaki gunung lagi. Perasaan ogah naik gunung karena memang sedikit kerasa berat di awal. Disini ni yang harus dilawan dan dikalahkan. Saya pasti BISA…!!
Pun saya juga pernah kena gejala ini, belum sampai pos istirahat, perut udah kerasa kram. Aseliiii, ini lebih sakit dan lebih kaku dari sekadar kram perut perempuan datang bulan, ato jenis jenis kram perut yang lainnya.
Itulah senangnya dan wajibnya dan aturannya dari orang tua, “Nduk, naik gunung ki, ga boleh sendiri”, kalo restu orang tua saya seperti itu. Jadinya kalo ada accident macam di atas ada yang bantuin.
* Saat di pos istirahat menuju puncak gunung
Mo update status di sini, rasa rasanya belum pernah berhasil, karena teori saya di setengah perjalanan atas gunung ini sudah tidak ada pemancar sinyal lagi.
Perasaan setelah istirahat makan dan sholat, tenaaaaangggggg dan legaaaa. Jauh lebih bersemangat lagi menuju ke puncak. Masalahnya tanggung bo’ udah nyampe sini. Mo turun juga ga ada yang mo nemenin. Lebih bersemangat lagi lah. Mengatur barisan siapa yang jadi leader depan dan yang jadi sweeper di belakang.
Disepanjang perjalanan pastinya diselingi dengan beberapa istirahat kecil, dan minuman jelly sejenis Jellyjus ato Okky Jelly drink amat sangat berguna disini. Jadi menyegarkan tapi ga berat. Ato choki choki dan semua jenis coklat pasta. Saya sarankan banyak2 bawa dua jenis makanan tersebut untuk teman seperjalanan selama hiking.
Berbagai jenis track di gunung, ada track yang mendatar panjang dengan sedikit tanjakan cuma 5-10 derajat. Ini yang paling saya benci. Rasanya lama, butuh tenaga ekstra pada kaki, jalan nya juga tunuk tunuk, kaya orang yang terkena asam urat. Unwelcome menurut saya.
Ada track yang tajam, berbatu 45-70 derajat. Nah ini favorit saya, berat sih memang, tapi rasanya seluruh badan ini ikut bergerak, dari mulai kaki punggung tangan, semuanya lah. Pastinya menempuh beberapa meter, berhenti sejenak ambil nafas.
Dan satu lagi, track bonus. Bonus sedikit jalan turunan. Walaupun logikanya setelah turunan, pasti ada tanjakan yang lebih tinggi lagi. Tapi kenyataannya setiap track bonus, bikin hiker jadi lebih bersemangat, semua hiker ato cuma saya aja si. hehehehe.
(Pemandangan)
Pemandangan di setiap tapakan kaki disini, wahhhh, subhanallah sekali lah. Kadang kita masih bisa mengintip cahaya matahari yang lewat di tengah tengah rimbunnya pohon. Kadang juga kita bisa menemukan beberapa flora dan fauna khas tiap tiap gunung. Kadang juga saat tanah lapang di punggung gunung, kita bisa melihat kebesaran ciptaan Allah, sejauh mana memandang yang terlihat di mata adalah kekaguman, dan terucap di bibir adalah bersyukur bisa menikmati pemandangan ini, Subhanallah.
Kadang masih terbengong bengong dengan segala ciptaan Allah.
Kadang disini juga merasakan perasaan ingin berteriak dan mengeluarkan isi hati, bagaimana egois nya selama ini, bagaimana terlalu berada dalam zona aman selama ini, segala unek unek bisa keluar disini, sadar maupun tanpa sadar, gila dong hehehe. Tak jarang juga banyak ide gila lainnya, yang bernyanyi lah, berorasi macam bapak ibu dewan, berpuisi, diskusi masalah cash flow kuadran, yang terakhir ini ga penting banget kan, di gunung gitu loh.
Dan yang paling saya suka adalah perasaan keber-pasrah-an kepada Allah. Menyertai tiap tiap tapak dengan istighfar, hamdalah, basmallah. Moment yang menguras tenang, merefreshkan pikiran, dan sekaligus melegakan hati.
*Saat 500 meter menuju puncak
Hahhhh, ini saat yang mendebarkan sodara sodara. Saat tenaga sudah terkuras habis, kalo di pilem Ultraman ni, lampu yang di dada Ultraman udah kelap kelip lemah. Perasaan capek lelah letihnya ini udah sampai ke ubun ubun. Tapi semangatnya langsung bangkit saat sayup sayup mendengar suara dari teman teman yang sudah sampai puncak terlebih dahulu.
Dan seringkali memang, track 500 meter menuju puncak adalah tanjakan 60-85 derajat. Saya suka track ini, tapi pada saat full batery, kalo macam batery yang kelap kelip pastinya semangat dan motivasi harus digenjot melebihi batas. Jauuuuuuuuuhhhhh melebihi batas.
Saling semangat antar teman, ucapan penyemangat bukan lagi allahu akbar ataupun subhanallah, tapi sudah beganti Astagfirullah…
*Saat berada di PUNCAK
Pekikan takbir Allahu Akbar………!!!!!!!
Wah, Subhanallah sekali lah rasanya kalo sudah sampai di Puncak. Fisik badan capek si pastinya, tapi hati otak dan fikiran benar benar MERDEKA. Mencapai tujuan dari segala rintangan selama ini.
Pemandangan yang disuguhkan. Wahhhh, tiada duanya, tiap tiap gunung memiliki ciri khas yang berbeda. Dan membawa nuansa kangen khas masing masing. Hiasan awan dilangit atau taburan bintang pada saat malam, t.o.p b.g.t s.k.l, juara lah nomer satu.
Saat kita tidur di alam bebas dan mengarahkan tangan ke atas, terasa memang bisa menyentuh langit. Apa yang dibilang di tipi tipi dan buku fiksi non fiksi, itu beneran, terasa memang lebih dekat dan bisa tersentuh oleh tangan.
Kadang ada pemandangan tambahan, bintang jatuh. Dan berharap doa yang dipanjatkan disini lebih cepat diproses oleh Allah, kan jaraknya lebih deket, hehe.
Kalo untuk update status di atas puncak, sekali waktu dulu saya pernah bisa update. Memang sebuah kejutan tampaknya. Lagi lagi eksis mode ON, hehehe.
Acara makan memakan, masak memasak, bercengkrama dengan teman2. Saling kenal teman2 satu sama lain. Ledek ledekan, “tadi siapa hayo yang ga kuat di tengah jalan…”.
*Saat turun gunung
Biasanya ditempuh dengan sisi punggung gunung yang berbeda. Pun, menyuguhkan keistimewaan dan kemewahan pemandangan yang berbeda.
*Saat sudah kembali ke rumah masing masing
Bangun tidur, jalan kaki kaya robot, kata orang jawa njarem, ato peribahasa serasa dipukulin orang sekampung. Kalo ditanya, masih mau naik gunung lagi gak, jawabannya : OGAHHHHHHHH
Dua minggu lagi ditanya, naik gunung yuk, jawabannya : Ayuuukkk, kapann??? hehe
****
Sebenernya inti dari naik gunung adalah perjalanan tiap tapaknya dan kebersamaan dengan teman teman. Tidak peduli itu gunung yang sama didaki berkali kali. Dan tujuan dari naik gunung sebenarnya adalah bisa pulang dengan keadaan selamat. Itu konsekuensinya tinggi loh, persiapan yang bagus, perencanaan yang matang, fisik yang kuat, dan kawan kawan.
Itulah sedikit perasaan di gunung, dan tiap gunung memberikan kenangan dan memori masing – masing. Coba deh, lebih dekat dengan gunung dan sekaligus tafakur alam. Jadi, nanti, kalo ada teman teman yang punya hobi naik gunung juga. Yukkk, lain kali trip bareng saya..
*oia, itu foto di atas, foto saya loh. keren ya saya ya… hehe.. demam NARSIS

wahh, teteh hobi hiking ternyata
sering denger si dr temen2, tp kalo uda lgsg d ceritain sama teteh gini baru percaya.
Eh, kalo pas hiking, pake celana gunung ato rok gunung? hehehe
pake rok gunung, di dalemnya pake celana gunung. nyaman kok, selama ini selalu okeh okeh aja. ayuk ayuk dinda naik gunung bareng..
gunung mana tuh?
saya baru dua kali naik gunung (gede dan halimun). Doain segera menyusul Rinjani
ehhh, mas ridwan juga suka naik gn.
saya beberapa yg d jabar (gede, tampomas, papandayan, cikuray)
besok mo naik cikuray lagi bareng temen2, insya allah.
ayolah kapan2 kita kopdar koprol di atas puncak gn mana gitu. seru kayanya, hehehe. itu mikes juga suka naik gunung loh
weitch aku dipanggil panggil…
iyo.. tu si bery ngajakin ke cikuray..
hayukk.. persiapan fisik lagi
mari kita ke cikuray….!!!!!!
asri klo naik gunung gak bawa carrier, cukup tas ransel…
*ya iyalah barang2 dititipin ke yg lain*
asri klo naik gunung gak bawa carrierhttp://tuwowo.wordpress.com/2010/02/09/asyik-dan-serunya-hiking/, cukup tas ransel…
*ya iyalah barang2 dititipin ke yg lain*
wah,, kalo carrier fara besar juga isi nya makanan semua,
biar pada perhatian semua, kalo saya nya nyasar ato hilang harus dicariin, kan makanan di saya semua
wah naik gunung lg nih
jgn lupa minta restu k ortu…
siapppp,,,,
sudah mengantongi SIM dari ortu
Surat Izin Munggah gunung
wah, critanya heboh amat kak, pasti ngetiknya semangat banget ya..
hehehehe
iyaaaa, maklum masih newbie ^_^
libur lebaran ,, team ane mau naek k’semeru… gabung yo mba!!!! mau nda??
wah, mau mau, monggo kalo ada info lebih lanjut, saya dikabari ^_^
Alooo mbak fara…salam kenal, wah ada juga akhwat naek gunung. Moga2 kapan2 bisa naek gunung bareng yach…hehe….*nyari temen*
Salam Rimba!
ku susul teh…hehe
halooo kmaren aq habis dr rinjanii indaaaaaaaaaaaaaaaaahhh d sana.ayo kapan ksana bareng yuuk
Ups, bisa hiking bareng nih